Berita & Artikel
01/12/2009
Who Is My Love ?
Cerpen : Rara Adin - Trend Music Announcer Namaku Deva, anak bungsu dari 2 bersaudara dan aku sekolah di SMA N.3 Bandung. Tapi sebenarnya namaku adalah Anariccha Vastya Aosti Wijaya, aku juga ga tau kenapa orang tua ku memberi nama yang agak aneh untuk seorang gadis seperti aku. Aku dipanggil Deva semenjak aku masuk SMA, tak heran kenapa temen-temen memanggilku Deva, karena disetiap barang-barangku pasti ada nama Deva, karena sebenarnya Deva adalah pacar pertamaku yang pernah membuat lukisan bahagia dalam hidupku. Yaaaa..Walaupun semua itu hanyalah tinggal sebuah kenangan belaka. Dan Tuhan tak mengizinkan kami untuk bersatu, hingga Deva pun telah dipanggil menghadap-Nya. Kematian Deva pun membuatku trauma, hingga sampai sekarang aku tidak mau berpacaran. Setiap ada seseorang yang care and love padaku selalu mendapat jawaban yang tragis dariku tanpa memandang siapa dia. Tapi untungnya aku mempunyai sahabat yang selalu mengerti diri ku. Hingga suatu saat ketika aku sedang berjalan-jalan di dekat koridor sekolah, tiba-tiba ada seseorang yang berlari terburu-buru hingga tanpa sengaja dia menabrakku dan !!!!!! "Aduh maaf, aku ga sengaja!" Dia pun langsung pergi tanpa memperdulikan aku, sangat terburu-buru . Tapi tanpa sadar dia pun menjatuhkan dompetnya, hingga timbul lah niatku untuk membuka dompetnya dan segera mengembalikannya. Tapi ntah kenapa aku pun segera mengubah niatku untuk mengembalikannya besok dan membiarkan anak itu mendapat masalah baru dengan kehilangan dompetnya atas ketidakpeduliannya terhadapku. Keesokan harinya... "Oh...Jadi nama anak itu Arya, Lengkapnya "M. Arya Prayoga, Kelas XII IPA C". Pantesan aja aku ga pernah melihat anak itu, kelasnya jauh banget dari kelasku. Jam istirahat pun tiba, aku pun cepat-cepat pergi ke kelas Arya dan menyelesaikan beban fikiranku karena sedang memegang benda milik orang yang sama sekali tidak ku kenal. "Eh...tuwh dia si Arya!" (aku langsung berlari dan menghampirinya). "Arya...aku mau balikin dompet kamu yang kemarin terjatuh. Sorry ya baru bisa aku balikin hari ini, dompetnya juga udah aku buka, tapi tenang aja ga ada yang ilang koq" "Oh...ga apa-apa, malahan aku berterima kasih banget kamu udah mau balikinnya, ngomong-ngomong nama kamu siapa?" "Namaku Vastya tapi temen-temenku lebih memilih memanggilku Deva, maaf aku harus segera pergi" (Deva bergegas pergi) "Tapi..eh tunggu dulu, aku belum selesai. Aku mau ngundang kamu makan di luar sebagai tanda terima kasihku, kali ini kamu ga boleh nolak nanti siang aku jemput ke kelasmu, key!!!" "Ga usah...Aku banyak PR dan nanti siang aku mau ke toko buku" "Pokoknya sampai ketemu nanti siang, aku tunggu kamu dekat gerbang sekolah...Sampai ketemu nanti siang yaaa...!" Arya pun langsung pergi. "Uh...Dasar orang aneh, terima kasih aja sampe segitunya...Berlebihan banget sih! Tapi ga apa-apa sekalian aku mau ke toko buku" Pulang sekolah aku jalan sama Arya, selesai makan kami pun pergi ke toko buku. Tapi tiba-tiba aku merasa aneh. Ada sosok yang q kenang, tingkahnya, sikapnya, tuturnya, caranya...Ya Allah.. Seakan-akan Deva sedang bersamaku walaupun sebenarnya itu adalah Arya. Hingga tanpa sadar aku menangis dan langsung memegang tangan Arya, dan terus menyebut nama Deva. Seketika Arya memeluk ku dan bingung kenapa aku menangis. Sesaat kemudian aku sadar, semua itu hanyalah imajinasiku semata. Aku langsung berlari tanpa memperdulikan Arya lagi, ntah karena aku sedih atau karena aku malu telah memeluk Arya. Keesokan harinya... Arya datang menemuiku, aku ga tau apa yang mau dia katakana yang jelas untuk sementara aku tidak mau bertemu dengannya, atas semua kejadian kemarin. "Vastya tunggu!!! Vas aku mau menyelesaikan persoalan kemarin, kamu ga usah malu aku udah tau kenapa kamu bersikap begitu kemarin, teman-temanmu sudah menceritakan semua kisahmu padaku. Aku turut prihatin Vas, aku ngerti dengan posisi kamu. Aku siap untuk menjadi tempat kamu bersandar atas semua kesedihanmu" "Tapi Ar..." "Husszzzz...!" Arya langsung mengarahkan telunjuknya ke mulutku. "Vas, tapi sebenarnya kamu salah. Aku yakin Deva sekarang juga ikut bersedih dan tidak menginginkan semua ini terjadi. Deva pasti ingin melihat kamu bahagia dan dia pasti mengizinkan kamu untuk memulai hidup yang baru. Aku harap kamu mau Vas, aku juga yakin kamu pasti bisa untuk mengubah semua jalan hidupmu, karena Deva sudah pergi untuk selamanya dan dia tidak akan mungkin kembali lagi"
"Kamu ga tau apa2, kamu ga tau tentang aku, siapa aku dan kamu ga akan pernah tau !" "OK. Aku mungkin orang baru dalam hidupmu dan aku ga tau tentang kamu. Tapi ingat Vas, sesuatu ga akan pernah berubah jika kamu tak pernah mencoba" ucap Arya tegas. "Aku tau selama ini aku salah, aku sudah sering berusaha buat ngelupain Deva. Tapi apa hasilnya aku semakin ingat pada Deva dan itu membuat aku sakit". "Tapi aku yakin aku pasti bisa mengubah jalan fikiranmu, kalau kamu mau untuk mencoba ngelupain semua kisah lamamu. Aku siap Vas, aku akan membantumu" "Ga akan pernah bisa Ar, sampe kapan pun ga akan pernah bisa sama kamu atau lelaki manapun! Hanya Deva, dia yang terindah, dia hidup tumbuh mengalir di darahku walaupun ia telah tiada, lukisan indah itu tak kan pernah terganti, takkan pernah hilang kau mengerti!" (Isak tangis deva mulai terdengar) "Aku bersumpah, Aku yang akan mengukir sejarah dalam hidup mu. Membuktikan ucapanmu salah, tak ada yang tak mungkin Vas, apalagi jika hambaNya sudah berusaha Tuhan pasti akan memberi jalan" Gadis itu tertunduk ia menangis,dalam desah ucapnya yang hampir tak terdengar ia berkata "Apakah Tuhan juga akan memberi kesempatan kepada ku? Wanita lemah tak berdaya" "Kau tak kan pernah tau. Tidak Ar ... Tak ada yang tau, tak ada yang mau mengerti aku. Hanya Deva yang menemaniku, Deva yang tau aku. Dia wanitaku, dia tempat ku berbagi. Kau mengerti sekarang apa yang ku alami, wanitaku meninggalkan ku, dia telah pergi jauh tak kembali. Padahal dia berjanji akan selalu ada. Semua begitu cepat berlalu" "kau mengerti sekarang, tidak satu pun lelaki dapat menggantikan deva ku, ia wanita terbaik dalam hidup ku, aku mencintainya dan hanya dia !" (Arya tersentak) "Wanita?" suaranya sangat pelan nyaris tak terdengar. "Iya, Sudah puas kah Ar atau mungkin kamu udah siap buat bilang ke seluruh dunia bahwa aku kelainan !" "Aku bangga Vas sama kamu, kamu cewek yang tegar. Kamu pasti bisa aku yakin dengan ucapanku" "Harusnya kamu menjauh dari aku, Ar" ucap Vasyta membentak. "ga ada yang perlu dijauhin. Aku akan membantumu. Semua masalah pasti ada jalan keluar Vas. Ga ada yang perlu ditakuti atau ditutupi. Aku siap menjadi sahabatmu sekaligus orang terdekatmu, tempatmu berbagi Vas, aku siap,aku akan selalu ada" Sejenak Vastya terdiam, "lelaki itu sama sekali tidak merasa aneh terhadapku, ia malah memberiku semangat" ucap vastya dalam hati. Lalu suasana pun menjadi hening, dengan wajah penuh air mata aku kembali ke kelas bersama Arya. Aku menjadi heran, bahagia dan sedih saat Arya memegang tanganku seerat mungkin. Kenapa dia begitu peduli padahal kami baru kenal. Kejadian hari itu pun membuat kebersamaan kami semakin akrab. Aku sangat bersyukur pada Allah, karena aku yakin Arya memang dikirimkan untukku, agar bisa menggantikan posisi Deva di hatiku. Merubah semua jalan hidup ku yang salah. Arya memang sahabatku yang paling mengerti aku. Kini aku mulai merasakan kebebasan, tanpa ada lagi Deva yang selalu mengatur system di otak ku dan membuang semua kesedihan yang telah membuat diriku terbelakang dari teman-temanku. Aku bahagia dengan semua yang terjadi padaku, kisahku pun merupakan keunikan tersendiri dalam hidupku. Tak lupa juga aku mulai membuka lowongan di hatiku untuk menggantikan Deva, terutama posisi untuk Arya.
BERITA LAIN
|