Berita & Artikel
23/08/2009
Sebuah Tinjauan Apresiatif Tari CEMPLUNG GARAPAN : ADINDA MIRANTI
“CEMPLUNG” sebuah tari garap kontemporer yang mengacu pada keberadaan seni tradisional di Jember yang bernasib kurang baik, bahkan diambang kepunahan yaitu “Can Macanan Kaduk”. Kesenian ini berekspresi seperti Barong (Bali) atau Barongsai (China), dua orang yang masuk dalam sebuah model binatang buas harimau yang terbuat dari karung (kadu’ – Madura), minimalis memang tetapi sanggup mewakili salah satu seni budaya di Jember.. Adinda Miranti mempunyai keprihatinan tentang hal itu, oleh sebab itu dia berupaya menterjemahkan dalam tari agar penonton atau masyarakat mau lebih peduli pada seni Can Macanan Kaduk. Cemplung, digarap modern dengan alur cerita tentang kesengsaraan situasi saat itu, semua masih serba minim, gelap tanpa listrik, pekerjaan seadanya.Masyarakat setiap hari disibukkan dengan aktivitas yang kurang menguntungkan dalam segi finansial, sementara rimbunnya alam pedesaan memproduksi sampah yang setiap hari harus dibersihkan, menyapu, memamanggul keranjang, hidup diliputi kepenatan. Mereka berolah pikir bahwa seni harus dihidupkan agar masyarakat memiliki hiburan. Melihat keseharian masyarakat memanggul karung, menyunggi keranjang, maka muncullah ide untuk merajut kehidupan itu dalam seni memainkan karung dan keranjang, maka muncullah penyempurnaan sebagai seni Can Macanan Kaduk (bentuk Harimau dari karung). Adinda Miranti berinovasi yang sangat masuk akal, baik dalam ekspresi kehidupan, kebingungan pikir maupun nuansa alam yang membangun, dan semua ini dimuncullkan dalam gerak tari. Inovasi : - keberanian mengungkapkan keadaan, penggarapan tari denganmenggabungkan gerak teatrikal, kontemporer, modern, dan tradisional - penggarapan suasana mampu membuat penonton kembali berpikir bahwa kesenian Can Macanan Kaduk berangkat dari rasa perjuangan untuk lepas dari kepenatan dan keprihatinan, maka perlu kita hargai perjuangan seniman Can Macanan Kaduk Penggarapan elemen pendukung : - Musik/ilustrasi pengiring : alangkah lebih baik bila tidak terlalu elektronis, jadi unsur tradisionalnya masih ada sehingga lebih akarab dengan leberadaan tari dan lebih menyentuh pada dasar pemikiran penciptaan tari Cemplung -Tata Pangung : Gedung PKM Universitas Jember yang mempunyai panggung permanen, dirubah menjadi setting lantai dan menjadikan panggung permanen menjadi balkon penonton, merupakan konsep yang benar. Kesederhanaan setting sudah sesuai dengan cerminan ide garap dengan suasana yang ada,diperkuat dengan Can Macanan Kaduk sebagai background, dan rumbai putih lambang kemurnian dan mencuatnya pemikiran yang oriental - Lihting cukup memadai dan sudah dapat mendukung suasana serta efek yang Diinginkan, walaupun sebenarnya dengan keterbatasan. - Tata suara sudah memenuhi syarat Jumlah penonton : kurang lebih 300 orang, sudah memenuhi kapasitas gedung yang ada. Tanggapan pennonton cukup baik, karena antusias menonton, diam terpesona, dan tidak meninggalkan gedung selama pertunjukan. Durasi pementasan : Hari I : Tari Besini - 15 menit Tari Cemplung - 20 menit Hari II : Tari Cemplung- 20 menit Tari Napel - 15 menit Selamat Adinda Miranti Selamat Hibah seni Selamat Yayasan Kelola Pemantau: kang parto + alfandi ( Radio Suara Akbar )
BERITA LAIN
|