Berita & Artikel
23/08/2009
Festival REOG SE KAB. JEMBER .... antara CINTA di tengah budaya hura-hura
Ketika saya mendengar berita bahwa mahasiswa Universitas Jember yang tergabung pada Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Reog, akan menyelenggarakan Festival Reog se Kab. Jember, hati berdebar-debar. Muncul bayangan-bayangan pertanyaan dan berbagai apresiasi. Meriah, ramai, gempar karena peserta dari seluruh pelosok daerah Jember akan datang dan beradu ketangkasan, ketrampilan, kreasi gerak dan tari. Wah ... pokoknya kepala penuh dengan bayangan reog .... Dadak merak..... ganongan..... para jathil, penonton, para pedagang kaki lima, dll. Namun di sudut otak saya mengatakan muncul pertanyaan, berapa sih pesertanya, apakah ada yang nonton? Saya berusaha untuk mencocokkan bayangan dengan kenyataan, sehingga setelah melihat yang sebenarnya, Festival Reog se Kabupaten Jember pada tgl. 15 dan 16 Agustus 2009, bayangan saya awal menjadi bubar, yang ada hanya keprihatinan, haru, namun tetap dengan rasa hormat dan bangga. Dari 19 grup Reog di Jember yang ikut festival hanya 4 grup. 2 malam penyelenggaraan hanya tidak lebih dari 3 jam efektif waktu yang dipergunakan. Padahal sarana yang disediakan oleh panitia sudah cukup memadai. Cinta dan Kemahalan Biaya - Persiapan panitia yang tidak sampai 30 hari sudah bisa melahirkan event pertama di Jember, hal ini didasari ada suatu rasa cita, cinta pada seni, etnik, budaya, dan nilai kemanusian yang mulai (sudah) terkikis oleh budaya hura-hura. - "eneng sing nanggap utowo gak eneng sing nanggap, aku tetep mbina reog nganti mati" (ada atau tidak ada yang mengundang untuk pagelaran, saya tetap membina reog sampai mati) ini kata salah satu Pembina reog. Perlu direnungkan, apa ini yang dinamakan cinta itu buta. Di era seperti ini ada orang yang tidak berprospek pada keuntungan bisnis atau uang. Tapi inilah cinta .... Membiayai sebuah pagelaran untuk festival, secara kalkulasi mulai dari latihan, transportasi, sampai pagelaran, mungkin repot untuk menghitung karena ngreniknya, yang jelas jutaan. Seandainya menangpun dan mendapat hadiah, tidak akan menutupi pengeluaran, apalagi yang tidak mendapat hadiah. Itulah cinta .... Itulah kepuasan .... - UKM Reog Universitas Jember dan para peserta telah berusaha mempertahankan, memelihara, mengembangkan sebuah peninggalan nenek moyang di tengah dunia hura-hura. Sekitar 1000 penonton mempunyai apresiasi yang menarik, inilah sebuah keharuan, sebab jika kita melihat keluar, banyak generasi muda maupun tua yang sudah tidak peduli dengan budaya kita sendiri yang telah dilirik dan dan mencoba untuk diaku oleh bangsa lain. Budaya hura-hura lebih menarik perhatian mereka. Entah siapapun juaranya, yang jelas semua peserta malam itu menyuguhkan pagelaran yang meriah, menyenangkan banyak orang. Selamat kepada Bapak Andang PR III Universitas Jember, yang berjanji mengagendakan acara tersebut tiap tahun, Fahmi Kemek ketua panitia, Ari ketua Reog Sardulo Anorogo, dan seluruh panitia. Selamat juga untuk grup reog: Singo Muncul - Pontang Etan Singo Budhoyo - Pontang Kulon Singo Mudho - Kesilir Kridho Budoyo - SMPN 1 Ambulu ................... Oleh kang parto
Radio On Line & Live Streaming : www.suaraakbar.com "Akbar FM Suara Pilihan Anda"
BERITA LAIN
|